Kamis, 12 Mei 2011

ARI LASSO...

HAMPA

D A Bm
Kupejamkan mata ini
Em B Em
Mencoba tuk melupakan
A G D
Segala kenangan indah
Bm Em
Tentang dirimu�
A
Tentang mimpiku
D A Bm
Semakin aku mencoba
Em B Em
Bayangmu semakin nyata
A G D
Merasuk hingga ke jiwa
Bm Em A
Tuhan tolonglah diriku
Reff :
D Bm Em A
Entah dimana dirimu berada
F# Bm Em A
Hampa terasa hidupku tanpa dirimu
D Bm Em A
Apakah disana� slalu rindukan aku
F# Bm Em
Seperti diriku yang slalu merindukanmu
A
Selalu merindukanmu
D A Bm
Tak bisa aku ingkari
Em B Em
Engkaulah satu-satunya
A G D
Yang bisa membuat jiwaku
Bm Em
Yang pernah mati
A
menjadi berarti
D A Bm
Namun kini kau menghilang
Em B Em
Bagaikan ditelan bumi
A G D
Tak pernahkah kau sadari
Bm Em A
Arti cintamu Untukku
Musik : G D G D
G Em G E A

LAVINA...

Berdiriku disini hanya untukmu
Dan yakinkan ku untuk memilihmu
   Dalam hati kecil ku inginkan kamu
   Berharap untuk dapat bersamamu
      Aku ‘kan ada untuk dirimu
      Dan bertahan untukmu
Terlukis indah raut wajahmu dalam benakku
Berikan ku cinta terindah yang hanya untukku
Tertulis indah puisi cinta dalam hatiku
Dan aku yakin kau memanglah pilihan hatiku
Back to [*][**]
Back to [***] 2x
Terlukis indah raut wajahmu dalam benakku
Berikan ku cinta terindah yang hanya untukku
Tertulis puisi cinta dalam hatiku
Dan aku yakin kau memanglah pilihan hatiku

Jumat, 06 Mei 2011

rossa...

Mengenangmu - 

 *courtesy of LirikLaguIndonesia.net
kupejamkan mata
kurasakan semua
yang pernah ada
yang pernah singgah
ku teteskan laraku
ku kenangkan cinta
perih terasa
menggores jiwa
reff: sendiri ku kini dalam sunyi
tanpa dirimu ada di sisiku
menetes air mata di pipi
coba menggapai bayang dirimu
aku hanya bisa mengenangmu

Jumat, 08 April 2011

..PADI..

KASIH TAK SAMPAI 
 
 
intro : D D7 G C#dim
        Bm F#m E G A

D            D7
Indah... terasa indah
      G                   C#dim
Bila kita terbuai dalam alunan cinta
  Bm             F#m          E
Sedapat mungkin terciptakan rasa
 G                  A     A7
Keinginan saling memiliki

     D            D7
Namun bila...itu semua
         G                   C#dim
Dapat terwujud dalam satu ikatan cinta
    Bm        F#m                E
Tak semudah seperti yang pernah terbayang
   G                 A    A7
Menyatukan perasaan kita...


Reff
     D                    Daug
Tetaplah menjadi bintang di langit
     G                   A
Agar cinta kita akan abadi
    D                   Daug
Biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini
   G                      A
Agar menjadi saksi cinta kita
    D  Daug   G   A
Berdua... berdua...

D                 D7
Sudah...terlambat sudah
      G             C#dim
Kini semua harus berakhir
    Bm           F#m          E
Mungkin inilah jalan yang terbaik
    G                     A          A7
Dan kita mesti relakan kenyataan ini

Kembali ke Reff

D Daug G A 2x
D E/D D G/D 2x

A          G           D 
Menjadi saksi kita berdua ......

my favorite

BUAT AKU TERSENYUM 
 
Intro : G Em G Em
 
           G          Em                 D     D7
Datanglah sayang, dan biarkan ku berbaring
         G    Em                  D     D7      
Di pelukanmu, walaupun ‘tuk sejenak…
         G           Em               D     D7
Usaplah dahiku dan ‘kan kukatakan semua
 
Reff I :
            C               G
Bila ku lelah tetaplah di sini
               Em           D
Jangan tinggalkan aku sendiri
            C                   G
Bila ku marah biarkanku bersandar
              Em                D
Jangan kau pergi untuk menghindar
 
         G          Em               D     D7
Rasakan resahku dan buat aku tersenyum
           G         Em                  D     D7
Dengan canda tawamu, walaupun ‘tuk sekejap…
           G                  Em              D     D7
Kar’na hanya engkaulah yang sanggup redakan aku
 
Reff II :
               C                    G
Kar’na engkaulah satu-satunya untukku
             Em                D
Dan pastikan kita selalu bersama
               C                         G
Kar’na dirimulah yang sanggup mengerti aku
         Em              D       D7
Dalam susah ataupun senang…
 

 C            G                D
Dapatkah engkau s’lalu menjagaku
      C           G                D
Dan mampukah engkau mempertahankanku…

Balik ke Reff I
Coda : Am G Em D C G Em D
       G Em G Em

Jumat, 01 April 2011

ISLAM ITU..???

Islam adalah agama kasih sayang
Islam adalah agama Allah yang dibawa sebagai risalah oleh Nabi Muhammad SAW. Islam pula yang dijadikan Allah sebagai penyempurna dari agama-agama sebelumnya dengan berkitab sucikan Alqur’an sebagai penyempurna pula dari kitab-kitab sebelumnya

“..pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu..” QS Al Maidah 3

Islam hadir dengan segala kesempurnaannya. Dalam Islam, segala sesuatu telah diatur sedemikian rupa mulai dari hal terkecil hingga hal terbesar. Pun mengatur akhlak umatnya mulai dari bagaimana akhlak dengan Allah, dengan Nabi dan Rasul, Kitab suci, antar manusia, bahkan binatang dan tumbuhan pun tak luput dari aturan bagaimana akhlak dengan mereka.

Lalu bagaimana akhlak seorang muslim terhadap non muslim atau orang-orang kafir?

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka..” QS Muhammad 29

Ya…bersikap lemah lembut kepada sesama muslim, tetapi keras (baca : tegas) terhadap orang-orang kafir. Keras disini dimaksudkan kepada mereka yang telah jelas akan membahayakan kehidupan kaum muslimin.

Mungkin selama ini, kita teramat benci kepada orang-orang kafir yang sudah terlalu sering menjatuhkan dan menghina serta menzalimi kaum muslimin. Entah seperti Amerika dan Zionis serta negara-negara lainnya. Namun, apakah semua orang kafir harus kita perlakukan ekstrim? Sedangkan Islam adalah agama kasih sayang, bukan hanya kepada sesama muslim, tetapi juga non muslim. Segaa sesuatu telah diatur oleh Islam agar melakukannya dengan baik, bahkan untuk membunuh pun diperintahkan agar membunuh dengan cara yang baik

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” QS Al Maidah 8

Mari sejenak belajar dari keteladanan seorang Panglima hebat dan luar biasa bernama Shalahuddin Al Ayyubi saat memimpin kaum muslimin pada Perang Salib.

Pada tahun 1145-1147 berlangsung Perang Salib II. Namun pada peperangan ini tidak terjadi pertempuran berarti karena ekspedisi perang tentara Eropa yang dipimpin oleh Raja Louis VII dari Perancis gagal mencapai Palestina. Mereka tertahan di Iskandariyah lalu kembali
ke negara asalnya.

Perang besar-besaran baru terjadi sekitar empat dasawarsa berikutnya pada Perang Salib III (1187-1191). Pada masa itu, Kekhalifahan Islam terpecah menjadi dua, yaitu Dinasti Fathimiyah di Kairo (bermazhab Syi'ah) dan Dinasti Seljuk yang berpusat di Turki (bermazhab Sunni). Kondisi ini membuat Shalahuddin Al-Ayyubi, panglima perang Dinasti Fathimiyah, merasa prihatin. Menurutnya, Islam harus bersatu untuk melawan Eropa-Kristen yang juga bahu-membahu.

Shalahuddin berhasil menghimpun pasukan yang terdiri atas para pemuda dari berbagai negeri Islam. Pasukan ini kemudian berhasil mengalahkan Pasukan Salib di Hittin (dekat Acre, kini dikuasai Israel) pada 4 Juli 1187. Pasukan Kristen bahkan akhirnya terdesak dan terkurung di Baitul Maqdis.

Shalahuddin meminta agar semua orang Nasrani Latin (Katolik) meninggalkan Baitul Maqdis. Sementara kalangan Nasrani Ortodoks—bukan bagian dari Tentara Salibtetap dibiarkan tinggal dan beribadah dikawasan itu.

Kemenangan tentara Islam yang dipimpin Shalahuddin membuat marah dunia Kristen. Mereka kemudian mengirimkan pasukan gabungan Eropa yang dipimpin Raja Perancis Phillip Augustus, Kaisar Jerman Frederick Barbarossa dan Raja Inggris Richard "Si Hati Singa" (the Lion Heart).

Pada masa ini pertempuran berlangsung sengit. Pada tahun 1194, Richard yang digambarkan sebagai seorang pahlawan dalam sejarah Inggris, memerintahkan untuk menghukum mati 3000 orang Islam, yang kebanyakan di antaranya wanita-wanita dan anak-anak. Tragedi ini berlangsung di Kastil Acre.

Suatu hari, Richard sakit keras. Mendengar kabar itu, Shalahuddin secara sembunyi-sembunyi berusaha mendatanginya. Ia mengendap-endap ke tenda Richard. Begitu tiba, bukannya membunuh, malah dengan ilmu kedokteran yang hebat Shalahudin mengobati Richard hingga akhirnya sembuh.

Richard terkesan dengan kebesaran hati Shalahuddin. Ia pun menawarkan damai dan berjanji akan menarik mundur pasukan Kristen pulang ke Eropa. Mereka pun menandatangani perjanjian damai (1197). Dalam perjanjian itu, Shalahuddin membebaskan orang Kristen untuk
mengunjungi Palestina, asal mereka datang dengan damai dan tidak membawa senjata. Selama delapan abad berikutnya, Palestina berada dibawah kendali kaum Muslimin.


Sekalipun sang Panglima kaum kafir telah banyak membunuh tentara muslimin, hal itu tak lantas membuat Shalahuddin Al Ayyubi dendam dan berbuat nekat pada Panglima itu. Padahal dalam keadaan yang sakit, Shalahuddin tentu sangat mudah untuk membunuhnya. Tapi ternyata tidak! Shalahuddin malah membantu menyembuhkan sakit sang Panglima dengan ilmu kedokteran yang dimilikinya.

"Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim" QS. Al Mumtahanah 8-9

Ini hanya sedikit penjelasan singkat, akan lebih banyak lagi hal bagaimana seharusnya akhlak kita sebagai umat muslim kepada manusia. Kita boleh benci, tapi jangan melampaui batas. Karena Rasulullah pun berdakwah dan berjuang untuk Dien ini bukan hanya dengan perang, tapi juga akhlak. Dan akhlak itulah yang membuat orang-orang kafir sebenarnya kagum kepada Islam ini. Maka, semoga kita bisa menempatkan diri kita sebagaimana mestinya kala berhadapan dengan orang-orang kafir ini.

wallahualam bish shawab

Referensi :

1> Alqur'an nur karim
2> http://www.mail-archive.com/daarut-tauhiid@yahoogroups.com/msg02982.html

PENTINGNYA UCAPAN SALAM...

Indahnya Salam Dalam Kehidupan Islam

     Kata salam dalam Bahasa Arab mempunyai arti keselamatan, kesejahteraan atau kedamaian. Beberapa hal yang berkenaan dengan salam adalah:
Dalil
1.    Al Qur’an
      Allah SWT berfirman:”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat” (An Nuur [24]: 27).
Allah SWT berfirman:”… Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada dirimu sendiri. Salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkah lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat (Nya) bagimu, agar kamu memahaminya” (An Nuur [24]: 61).
2.    Hadits
Rasulullah Saw bersabda:”Demi Dia yang diriku berada di tangan-Nya! Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Dan kalian tidak akan beriman hingga kalian saling berkasih-sayang. Maukah kalian saya tunjukkan suatu perkara yang apabila kalian kerjakan, maka akan tumbuh rasa kasih-sayang di antara kalian? Sebarkan salam di antara kalian!” (HR. Muslim).
Rasulullah SAW bersabda:”Wahai manusia! Sebarkanlah salam, berilah makanan, sambunglah tali silaturahmi dan shalatlah ketika manusia lain tengah tertidur; niscaya kamu akan masuk surga dengan selamat sejahtera” (At Tirmidzi).

3.    Sunnah Para Nabi dan Rasul
       Abu Hurairah RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:”Ketika Allah telah menjadikan Adam, maka Allah memerintahkan:”Pergilah kepada para Malaikat dan ucapkan salam kepada mereka yang tengah duduk. Dengarkanlah jawaban salam mereka, karena itu akan menjadi ucapan salam bagi kamu dan anak cucumu kelak!” Maka pergilah Nabi Adam dan mengucapkan:”Asalaamu ‘alaikum!” Para Malaikat menjawab:”Assalaamu ‘alaika warahmatullaah!” Mereka menambah warahmatullaah” (HR. Bukhary dan Muslim).
Al Qur’an menceritakan kisah Ibrahim AS:”(Ingatlah) ketika mereka msuk ke tempatnya lalu mengucapkan:”Salaaman”, Ibrahim menjawab:”Salaamun” …” (Adz Dzaariyaat [51]: 25).
4.    Perilaku Para Shahabat
Thufail Bin Ubay Bin Ka’ab pernah datang ke rumah Abdullah Bin Umar; lalu keduanya pergi ke pasar. Ketika keduanya sampai di pasar, tidaklah Abdullah Bin Umar menemui tukang rombeng, penjual toko, orang miskin dan siapa saja melainkan mesti memberi salam kepada mereka.
Suatu hari, Thufail Bin Ubay Bin Ka’ab datang lagi ke rumah Abdullah Bin Umar, dan diajak lagi ke pasar. Maka Thufail bertanya:”Perlu apa kita ke pasar? Kamu sendiri  bukanlah seorang pedagang dan tidak ada kepentingan menanyakan harga barang atau menawar barang. Lebih baik bila kita duduk bercengkerama di sini”. Abdullah Bin Umar menjawab:”Hai Abu Bathn! Sebenarnya kita pergi ke pasar hanya untuk memasyarakatkan salam. Kita beri salam kepada siapa saja yang kita temui di sana!” (Imam Malik dalam kitab Al Muwatha’ dengan sanad shahih).
Hukum
1.    Mengucapkan Salam
       Hukum mengucapkan salam adalah sunnah yang dikuatkan (sunnah mu’akadah). Rasulullah SAW bersabda:”Jika seseorang di antara kalian berjumpa dengan saudaranya, maka hendaklah memberi salam kepadanya. Jika antara dia dan saudaranya terhalang pepohonan, dinding atau bebatuan; kemudian mereka berjumpa kembali, maka ucapkan salam kepadanya” (HR. Abu Daud).

2.    Menjawab Salam
       Sedangkan hukum menjawab salam adalah wajib. Sebagaimana firman Allah SWT:”Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah yang lebih baik atau balaslah dengan yang serupa. Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu” (An Nisaa’ [4]: 86).

3.    Ucapan Salam
       Ucapan salam yang lengkap adalah “Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh” yang artinya “semoga seluruh keselamatan, rahmat dan berkah Allah dilimpahkan kepada kalian”. Ucapan salam ini sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW ketika beliau tengah bersama isterinya, ‘Aisyah RA, beliau bersabda:”Ini Jibril mengucapkan salam kepada kamu”. Maka ‘Aisyah RA menjawab:”Wa ‘alaihissalaam warahmatullaahi wabarakaatuh” (HR. Bukhary dan Muslim).
Idealnya seorang Muslim mengucapkan salam dengan lengkap, tetapi tetap diperkenankan seseorang untuk mengucapkan salam:
a.    Assalaamu ‘alaikum
b.    Assalaamu ‘alaikum warahmatullaah, atau
c.    Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh (lengkap)
Semakin lengkap ucapan salam seorang, maka semakin banyak pula keutamaan yang diraihnya. Imran Bin Hushain RA menceritakan tentang seseorang yang mendatangi Rasulullah SAW dan mengucapkan salam:”Assalaamu ‘alaikum!” Rasulullah SAW menjawab salam tersebut, dan kemudian memberikan komentar:”Sepuluh!” Kemudian datang orang lain yang mengucapkan salam:”Assalaamu ‘alaikum warahmatullaah!” Rasulullah SAW menjawab dan kemudian memberikan komentar:”Duapuluh!” Dan datanglah orang ketiga dan mengucapkan salam:”Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh!” Maka Rasulullah SAW menjawab:”Tigapuluh!” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).
Demikianlah, semakin lengkap ucapan salam seseorang, akan semakin banyak pula keutamaan yang dia peroleh.

4.    Ucapan Balasan Salam
       Sedangkan jawaban salam, minimal setara dengan ucapan salam; dan kalau bisa, malah dilebihkan. Allah Ta’ala berfirman:” Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah yang lebih baik atau balaslah dengan yang serupa. Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu” (An Nisaa’ [4]: 86).
Sehingga jawaban salam yang disyari’atkan adalah:
a.    Bila ucapan salam “Assalaamu ‘alaikum” maka jawaban minimal adalah “Wa’alaikumussalaam”, jawaban lebih adalah “Wa’alaikumussalaam warahmatullaah”, dan jawaban lengkapnya adalah “Wa’alaikumussalaam warahmatullaahi wabarakaatuh”.
b.    Bila ucapan salam “Assalaamu ‘alaikum warahmatullaah” maka jawaban minimal adalah “Wa’alaikumussalaam warahmatullaah”, dan jawaban lengkapnya adalah “Wa’alaikumussalaam warahmatullaahi wabarakaatuh”.
c.    Bila ucapan salam “Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh” maka jawaban minimal adalah “Wa’alaikumussalaam warahmatullaahi wabarakaatuh”
Adab
Ada beberapa adab yang harus diperhatikan dalam menyebarkan salam, yaitu:
1.    Urutan Salam
Sabda Rasulullah SAW:
a.    Orang yang berkendaraan memberi salam kepada yang berjalan
b.    Orang yang berjalan memberi salam kepada orang yang duduk
c.    Rombongan yang sedikit memberi salam kepada rombongan yang lebih banyak
d.    Yang kecil (muda) memberi salam kepada yang besar (tua)
(HR. Bukhary).
       Itulah urutan salam yang menjadi adab bagi seorang Muslim untuk menyebarkan salam. Sikap dasar seorang Muslim adalah mencoba memaklumi orang lain dan tidak meminta untuk dimaklumi. Urutan salam inipun tidak harus menjadikan kita minta untuk  dimaklumi. Misal orang tua sama sekali tidak mau memberi salam kepada yang lebih muda, dan menuntut supaya anak-anak muda itu yang harus terlebih dahulu mengucapkan salam kepadanya. Sikap tuntutan seperti ini tentu saja berlebih-lebihan. Mestinya seorang Muslim tidak terjebak dengan sikap kekanak-kanakan seperti ini.

2.    Mendahului Salam
       Terlepas dari urutan dalam memberi salam, Rasulullah SAW mengajarkan untuk mendahului dalam memberi salam. Diharapkan kita tidak pasif dalam mengucapkan salam, yaitu sekedar menanti datangnya ucapan salam dari orang lain. Diharapkan pula kita tidak menjadi orang yang suka menuntut orang lain untuk mengucapkan salam duluan. Rasulullah SAW mengajarkan, justru yang memulai salam itulah orang yang lebih mulia.Sabdanya:”Seutama-utama manusia bagi Allah adalah yang mendahului salam (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).
Seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah SAW:”Ya Rasulullah, jika dua orang bertemu muka, manakah di antara keduanya yang harus terlebih dahulu memberi salam?” Rasulullah SAW menjawab:”Yang lebih dekat kepada Allah (yang berhak terlebih dahulu memberi salam)” (HR. tirmidzi).

3.    Menjawab Setara atau Lebih
       Apabila ada seseorang yang memberi salam kepada kita, maka idealnya kita memberikan jawaban yang sama (setara). Misalkan seseorang mengucapkan salam kepada kita:”Assalaamu ‘alaikum warahmatuulaah!” Minimal kita harus menjawab:”Wa’alaikumussalaam warahmatullaah!”
Lebih utama lagi, apabila kita memberikan jawaban yang lebih daripada ucapan salam tersebut. Misalkan seseorang mengucapkan salam kepada kita:”Assalaamu ‘alaikum warahmatuulaah!” Maka akan lebih baik apabila kita menjawab:”Wa’alaikumussalaam warahmatullaahi wabaraakatuh!”
Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala:”Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah yang lebih baik atau balaslah dengan yang serupa. Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu” (An Nisaa’ [4]: 86).
Jawaban salam masih kurang setara apabila kita memberi jawaban:”Wa’alaikum salaam …!” Harusnya, jawaban itu adalah:”Wa ‘alaikumus salaam …!” Perbedaan antara keduanya adalah: salaam dan as salaam. Kata salaam berarti keselamatan, sedangkan kata as salaam memiliki makna seluruh keselamatan. Tentu saja tidak setara antara keselamatan dan seluruh keselamatan. Jawaban ”Wa’alaikum salaam …” mempunyai makna keselamatan atas kalian; sedangkan jawaban “wa ‘alaikumus salaam …” mempunyai makna seluruh keselamatan atas kalian. Tentu saja jawaban ”Wa’alaikum salaam (keselamatan atas kalian)…” tidak setara apabila pemberi salam megucapkan:”Assalaamu ‘alaikum (Seluruh keselamatan atas kalian) …!”

4.    Menjabat Tangan
       Selain mengucapkan salam, akhlaq yang indah (karimah) bagi seorang Muslim ketika bertemu dengan saudaranya adalah menjabat tangannya dengan hangat. Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW:”Ya Rasulullah, jika seseorang dari kami bertemu dengan saudaranya atau temannya apakah harus menunduk-nunduk?” Jawab Rasulullah SAW:”Tidak!” Tanyanya:”Apakah harus merangkul kemudian menciumnya?” Jawab Rasulullah SAW:”Tidak!” Tanyanya sekali lagi:”Apakah meraih tangannya kemudian menjabatnya?” Jawab Rasulullah SAW:”Ya!” (HR. Muslim).
Selain memiliki nilai kehangatan dan persahabatan (ukhuwwah), jabatan tangan juga akan menghapus dosa di antara kedua Muslim yang melakukannya. Rasulullah SAW bersabda:”Tidaklah dua orang Muslim yang bertemu kemudian berjabat tangan kecuali Allah akan mengampuni dosa keduanya sampai mereka melepaskan jabatan tangannya” (HR. Abu Daud).
Yang tetap perlu diperhatikan hendaklah lelaki tidak berjabat-tangan dengan wanita yang bukan muhrimnya; demikian pula sebaliknya. Meskipun dalam masalah ini, DR. Yusuf Al Qardhawi tidak mengharamkannya secara mutlaq.
5.    Berwajah Manis
       Yang dimaksud berwajah manis adalah penampilan yang menyenangkan serta senyum yang mengembang. Gaya seperti inilah yang diinginkan Rasulullah SAW ketika seorang Muslim bertemu dengan saudaranya. Sabda Rasulullah SAW:”Jangan kalian meremehkan sedikitpun tentang kebaikan, meskipun hanya wajah yang manis saat bertemu dengan saudaramu” (Al Bukhary).
6.    Tidak Memalingkan Wajah
       Memalingkan wajah, apapun alasannya, sulit untuk ditafsirkan lain kecuali sikap meremehkan atau memusuhi. Apabila seorang Muslim berjumpa dengan saudaranya, selain salam dan jabat tangan. hendaklah ditambah dengan menatap wajah saudaranya; tidak malah memalingkan wajah. Nilai ucapan salam dan jabatan tangan menjadi hampa dan hilang ketika seseorang melakukannya sambil memalingkan wajah.
Allah SWT telah mengingatkan masalah ini dengan firman-Nya:”Dan janganlah kamu memalingkan muka kamu dari manusia dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” (Luqman [31]: 18).
7.    Tidak Membikin Gaduh
       Setiap pembicaraan yang kita lakukan hendaklah secukupnya saja. Maksudnya, tidak dengan suara yang berlebihan, tetapi juga tidak terlalu lemah. Minimal orang yang kita ajak berbicara mampu menangkap suara kita, itu sudah cukup. Demikian pula dalam mengucapkan salam; secukupnya saja.
Al Miqdad RA biasa menyediakan susu bagian Rasulullah SAW. Maka Rasulullah SAW datang pada waktu malam, lalu beliau memberi salam dengan perlahan sehingga tidak membangunkan orang yang tidur, dan cukup didengar oleh mereka yang terjaga. Dan beliau mengucapkan salam sebagaimana biasa beliau mengucapkan salam (HR. Muslim).
8.    Tidak mengucapkan ‘Alaikassalaam
       Ucapan salam yang dilarang oleh Rasulullah SAW adalah ‘alaikassalaam, karena kata ‘alaikassalaam adalah salam untuk orang yang telah meninggal. Abu Juray al Hujaimi datang kepada Rasulullah SAW sambil mengucapkan:”’Alaikassalaam, ya Rasulullah!” Maka Rasulullah SAW berkata:”Jangan berkata ’alaikassalaam karena ‘alaikassalaam itu merupakan salam bagi orang mati” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi).
9.    Salam kepada Lain Jenis
       Laki-laki diperkenankan memberi salam kepada wanita; dan sebaliknya wanita juga diperbolehkan mengucapkan salam kepada laki-laki. Demikianlah yang dilakukan Rasulullah SAW ketika berjalan melalui sekumpulan wanita. Beliau memberi salam kepada mereka (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).
Asma’ Binti Jazid menceritakan bahwa ketika Rasulullah SAW berjalan di masjid mendadak melihat rombongan wanita tengah duduk, maka beliau melambaikan tangan dengan mengucapkan salam” (HR. At Tirmidzi).
Sedangkan salam wanita kepada laki-laki digambarkan oleh Ummu Hani’ Binti Abu Thalib RA ketika datang kepada Rasulullah SAW saat Fat-hu Makkah (penaklukan kota Makkah). Saat itu, Rasulullah SAW tengah mandi dan di depan ada Fathimah. Maka Ummu Hani’ memberikan salam kepada Rasulullah SAW (HR. Muslim).
Tentu saja, memberikan salam kepada lawan jenis yang bukan muhrim dilakukan dengan tetap memperhatikan adab-adab pergaulan lawan jenis. Jangan sampai salam dengan lawan jenis justru dijadikan sebagai pengantar mendekati perbuatan zina. Misalkan salam anak-anak muda kepada lawan jenis dengan ragam salam yang tidak tepat. Ada salam sayang, salam mesra, salam rindu dan mungkin ada salam-salam lain yang lebih berbahaya. Padahal salam seperti itu ditujukan kepada lawan jenis yang bukan muhrim bukan pula isteri/suaminya. Salam seperti inilah yang tidak lagi bernilai syar’i.
10.    Salam kepada Orang Non Muslim
       Diharamkan seorang Muslim mendahului mengucapkan salam kepada orang Non Muslim. Rasulullah SAW bersabda:”Jangan kalian mendahului mengucapkan salam kepada orang Yahudi atau Nashrani” (HR. Muslim).
Tetapi apabila forumnya telah berbaur antara orang Muslim dengan Non Muslim, maka diperkenankan kita untuk memulai mengucapkan salam. Demikianlah yang dilakukan Rasulullah SAW ketika melewati suatu majelis yang berbaur antara orang Muslim, musrikin penyembah berhala dan Yahudi. Beliau mengucapkan salam kepada mereka” (HR. Bukhary dan Muslim).
Apabila orang Non Muslim memulai mengucapkan salam, maka jawaban yang diperkenankan oleh syari’at adalah:”Wa ‘alaikum!” (Semoga anda juga). Itu saja, tidak usah diperpanjang lagi. Rasulullah SAW menasihatkan:”Jika orang-orang Ahli Kitab (Non Muslim) memberi salam kepada kamu, maka jawablah:”Wa ‘alaikum” (HR. Bukhary dan Muslim).
11.    Salam kepada Anak-anak
       Salam tidak hanya hak bagi pemuda dan orang tua. Anak-anak pun berhak untuk mendapatkan salam dan membalasnya. Bahkan, kebiasaan menyebarkan salam kepada anak-anak, diharapkan dapat mewarnai akhlaq seseorang ketika menginjak remaja dan dewasa.
Anas Bin Malik RA memberi salam kepada anak-anak ketika dia berjalan di muka mereka. Kemudian Anas berkata:”Dahulu Rasulullah SAW juga berbuat seperti ini (HR. Bukhary dan Muslim).
Maka berilah salam kepada anak-anak sekaligus mengkondisikan mereka dengan akhlaq-akhlaq Islami sejak dini.
12.    Salam jika Masuk Rumah
       Allah SWT memerintahkan kepada Kaum Muslimin untuk meminta ijin dan mengucapkan salam apabila hendak memasuki rumah orang lain. Firman-Nya:”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat” (An Nuur [24]: 27).
Demikian pula jika kita memasuki rumah kita sendiri, baik dalam keadaan ada orangnya atau dalam keadaan kosong. Disyari’atkan supaya kita mengucapkan salam. Allah SWT berfirman:”… Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada dirimu sendiri. Salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkah lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat (Nya) bagimu, agar kamu memahaminya” (An Nuur [24]: 61).
Rasulullah SAW pun juga mengajarkan kepada Anas Bin Malik:”Wahai anak, jika kamu masuk ke dalam rumah keluargamu, hendaknya memberi salam, supaya menjadi berkah untuk kamu dan keluargamu” (HR. at Tirmidzi).
13.    Berkirim Salam
       Sudah menjadi tradisi di kalangan kita untuk saling berkirim salam kepada saudara kita melalui orang lain. Tetapi ada perilaku yang masih canggung bagi kita untuk berkirim salam, yaitu isi salamnya justru seringkali tidak tersampaikan. Maka cara berkirim salam adalah sebagai berikut:
Pertama, untuk pihak pengirim salam mestinya menitipkan salam sekaligus isi salamnya, sebagai mana seseorang yang berkata,”Saya mau nitip surat kepada si Fulan”, maka tentunya dia akan mengambilkan surat tersebut dan diberikan kepada pengirimnya. Maka seorang pengirim surat ketika mengatakan,”Saya titip salam buat si Fulan” dia harusnya menambahkan,”Assalaamu ‘alaihim warahmtullaahi wabarakaatuh”.
Kedua, untuk pihak pembawa salam mestinya menyampaikan salam sekaligus isi salamnya. Sebagaimana Pak Pos yang berkata,”Ada surat buat Bapak” kemudian dia akan menyerahkan surat tersebut kepada orang yang dituju. Demikian pula seorang pembawa salam ketika berkata kepada orang yang dituju,”Kamu dapat salam dari si Fulan” maka salamnya harus disampaikan,”Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh”.
Ketiga, pihak penerima salam hendaknya membalas salam dari saudaranya sekaligus isinya. Maka seharusnya ketika dia berkata,”Salam balik, ya” maka dia harusnya menambahkan,”Assalaamu’alaihim warahmatullaahi wabarakaatuh”.
Demikianlah semestinya tata-cara berkirim salam kepada saudaranya melalui orang lain.
Makna Salam
1.    Do’a
       Makna salam adalah do’a seorang Muslim kepada saudaranya seiman. Kata “Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh” mempunyai makna “Semoga seluruh keselamatan, rahmat dan berkah  dianugerahkan Allah kepada kalian”. Nilai do’a dalam kandungan salam ini menjadi salah satu dasar mengapa salam tidak dapat diberikan kepada orang-orang Non Muslim. Karena do’a seorang Muslim kepada Non Muslim akan tertolak, meskipun ditujukan kepada orang-orang yang dekat dalam kehidupannya. Demikian pula Rasulullah SAW tertolak do’anya ketika ditujukan kepada pamannya yang masih kafir, Abu Thalib. Dan Allah mengingatkan dengan firman-Nya:”Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya. Dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk” (Al Qashash [28]: 56).
Do’a seorang Muslim kepada Non Muslim adalah do’a supaya mereka mendapat petunjuk masuk dalam pangkuan Islam. Demikianlah do’a Rasulullah SAW kepada orang Non Muslim:”Ya Allah berilah petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka orang yang tidak mengerti” (Sirah Nabawiyah, Abul Hasan ali An Nadwi). Atau do’a Rasululah SAW kepada Umar Bin Khaththab ketika masih kafir:”Ya Allah, berilah kemuliaan kepada Islam dengan masuk Islamnya salah satu orang terkasih kepada-Mu, yakni Abu Jahal atau Umar Bin Khaththab”.
Demikian pula sebaliknya. Seorang Non Muslim tidak mungkin mendo’akan seorang Muslim, karena tuhannya tidak sama. Bagaimana mungkin seorang tuan menggaji seseorang yang bukan pegawainya. Sehingga, bila seorang Non Muslim memberi salam kepada kita, cukup kita balas dengan ucapan:”Wa’alaikum (Semoga kamu juga)”, tidak lebih dari itu.
Berkah do’a dari salam itulah yang menjadikan shahabat mengecilkan volume jawaban salam ketika Rasulullah SAW mengucapkan salam kepada penghuni rumahnya. Sampai salam ketiga, barulah mereka menjawab dengan suara keras. Ketika Rasulullah SAW bertanya mengapa hal itu dilakukan oleh mereka, maka dijawab:”Kami ingin mendapatkan do’a dari Rasulullah SAW”.
2.    Dasar Iman dan Ukhuwwah
       Salam merupakan dasar terbentuknya kasih-sayang (ukhuwwah), sedangkan kasih-sayang merupakan salah satu indikasi kedalaman iman. Sehingga dapat disimpulkan bahwa salam merupakan dasar bagi tegaknya iman dan ukhuwwah.
Rasulullah SAW bersabda:”Demi Dia yang diriku berada di tangan-Nya! Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Dan kalian tidak akan beriman hingga kalian saling berkasih-sayang. Maukah kalian saya tunjukkan suatu perkara yang apabila kalian kerjakan, maka akan tumbuh rasa kasih-sayang di antara kalian? Sebarkan salam di antara kalian!” (HR. Muslim).
3.    Syi’ar Universal
       Sangat keliru anggapan sebagian orang yang mengatakan bahwa salam adalah budaya Arab, sehingga diusulkan supaya diganti dengan sapaan lokal atau nasional setempat. Sebelum kedatangan Islam, orang-orang Arab tidak mengenal salam seperti yang kita fahami sekarang. Bila mereka menyapa, mereka akan mengatakan:”Shabahan Nuur (Selamat pagi)” atau “Masaa’an Nuur (Selamat malam)” dan kemudian akan dijawab “Shabahal Khair” atau “Masaa’al Khair”.
Setelah kedatangan Islam, sapaan ala Arab itu tidak hilang begitu saja. Sapaan itu tetap menjadi sapaan khas dalam Bahasa Arab. Sedangkan sapaan sesuai syari’at Islam adalah:”Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi wabarakaatuh” menjadi tradisi bagi Kaum Muslimin. Sehingga bagi orang Arab yang Non Muslim tidak memakai salam sebagai sapaan mereka.
Maka sangat keliru mereka yang beranggapan bahwa salam adalah sapaan budaya Arab. Meskipun salam memakai Bahasa Arab. Yang benar adalah salam merupakan sapaan khas Islam yang sesuai dengan syari’at dan berpahala apabila mengerjakannya. Sekaligus salam merupakan sapaan yang bersifat universal bagi seluruh Kaum Muslimin sedunia. Dia semacam kode etik pergaulan antara sesama Muslim. Siapapun dia, berada di manapun, dan kapanpun jua; maka salam adalah sapaan pemersatu Kaum Muslimin di seluruh dunia. Itulah syi’ar di antara syi’ar-syi’ar agama Allah yang harus kita agungkan.
“…Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati” (Al Hajj [22]: 32).
Demikianlah salam dalam kehidupan seorang Muslim. Tidak ada manfaatnya salam, apabila kita tidak mengamalkannya dalam praktek kehidupan sehari-hari. Dan dengan salam, semoga saja kita masuk surga dengan selamat.Amiin
Maraji’
1.    Hasan Ayyub, Assulukul Ijtima’I
2.    Imam An-Nawawi, Riyadhus shalihn
3.    Sayyid Sabiq, Fiqhus sunnah

 Izin kutip : Akhlaq (permata )